BBCA, BMRI, dan TPIA Cs Buyback Saham, Investor Asing yang Masih Wait and See
Investor asing masih wait and see di pasar saham Indonesia, meski emiten besar seperti BBCA, BMRI, dan TPIA melakukan buyback saham.
Investor asing masih wait and see di pasar saham Indonesia, meski emiten besar seperti BBCA, BMRI, dan TPIA melakukan buyback saham.
Emiten di Indonesia ramai-ramai melakukan buyback saham setelah valuasi jatuh akibat pembekuan MSCI, meski ini bertentangan dengan upaya meningkatkan free float.
Bangun Kosambi Sukses (CBDK) berencana melakukan buyback saham senilai maksimal Rp250 miliar untuk meredam tekanan jual dan menjaga kepercayaan investor.
PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) akan buyback saham senilai Rp300 miliar mulai 2 Februari hingga 1 Mei 2026 untuk menjaga stabilitas harga saham.
BNI (BBNI) berencana buyback saham senilai Rp1,50 triliun untuk meredam tekanan jual dan menunjukkan harga saham tidak mencerminkan fundamental. RUPST dijadwalkan 9 Maret 2026.
PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) akan melakukan buyback saham senilai maksimal Rp200 miliar untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah volatilitas pasar.
PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) berencana buyback saham senilai Rp250 miliar akibat volatilitas pasar, setelah sahamnya turun tajam dan terkena ARB dua kali.
BCA berencana buyback saham hingga Rp5 triliun setelah saham turun 6%. Rencana ini akan dibahas dalam RUPST pada 12 Maret 2026 dan berlangsung 12 bulan.
BRI (BBRI) melakukan buyback saham senilai Rp512,8 miliar sepanjang 2025, dengan target maksimal Rp3 triliun, sesuai persetujuan RUPST.
CIMB Niaga buyback 168.000 saham senilai Rp357,24 juta pada 5 April 2024, dengan harga rata-rata Rp2.120 per saham, dan mengalihkan sebagian untuk program MRT.